Mungkin Cintaku di
Parkiran Sekolah
Kelas 9 pun telah usai ditempuh
Adin, dia lulus dengan nilai yang, hmm cukup puas lah. Dia mendaftar ke SMA
favorit yang waktu itu berlabel RSBI tapi sekarang sudah dicabut.
Dia diterima walaupun dulu dia
duduk di bangku cadangan, tapi itu tidak membuatnya putus asa.
Di SMA dia punya teman-teman baru yang super duper gokil. Dia kesana ke mari,
main sama teman-temannya.
Tapi dia tetap nurut sama perintah orang tuanya.
***
6 bulan kemudian, SMAnya ngadain
KTS, dia seneng banget karena bisa lebih deket lagi sama temen sekelasnya. Pada
hari ke 2, saat lomba basket, dia melihat kakak kelas yang bisa dibilang keren.
"Manis banget ini kakak," ucapnya
dalam hati, namun fikiran itu mengikutinya sampai di rumah, dia terus saja
memikirkan cowok yang mulai jadi pujaan hatinya itu.
Keesokan harinya, dia tak mau
dihantui rasa penasarannya. Akhirnya dia memberanikan diri untuk tanya sama
teman sekelasnya, Erin. Yang saat itu bisa dibilang teman yang dekat.
"Er, kamu
tau nggak kakak kelas yang unyu banget itu?" tanya Adin
"yang mana sih, Di? Aku
belum pernah kamu beritahu orangnya tuh!" jawab Erin.
"Oh iya, aku lupa! Aduh, pokoknya kakak kelas yang manis
banget."
"Emmhhh, bikin bingung aja
kamu,"
"Oh yaudah, aku cari di Facebook aja deh, cari di fotonya, pasti
temen-temennya pernah ngetag dia."
"emang kamu tau temannya
siapa? Atau nick facebooknya
gitu?" Erin meyakinkan
"hehehe, enggak sih, eh tapi
kak Ayu itu kelas apa ya E?"
"itu kelas XI IPA Di, kamu liat dari Facebooknya kak Ayu aja deh,
Di!"
"sip, Er. Aku juga berpikir kayak gitu." jawab Adin
berbunga-bunga.
***
"akhirnya dikonfirm juga
ini, sama kak Nino," batin Adin senang. Akhirnya Adin memutuskan untuk
nge-wall dia hanya
untuk mengucapkan terimakasih. Diapun membalasnya dengan ramah, terlihat dari
kata-katanya.
Keesokan harinya di sekolah Adin
menceritakan ke Erin tentang kak Nino, ternyata Erin sudah tau namanya, tapi
karena kemarin Adin ceritanya ribet, Erin jadi tak tahu maksud Adin kalau dia
menanyakan kak Nino. Erin juga ngefans banget sama kak Nino, akhirnya mereka
saling curhat tentang pujaan mereka itu.
***
Bel pulangpun berbunyi, Adin
masih sibuk membereskan tasnya. "siapa yang mau ke parkiran?" teriak
Citra membuyarkan lamunan Adin
"eh, aku Ce. Kamu mau ke
parkiran sekarang?" jawab Adin dengan teriak juga kaget
"iyalah, Di. Masak ya besok.
Hehe. Yuk?"
merekapun pergi ke parkiran, tak
disangka di parkiran mereka bertemu kak Nino, Adin tidak berani melihat kak
Nino, tapi dia hanya berani melirik, dan saat itupun kak Nino juga melihat
Adin. Adin tak mampu berkata-kata, dia salah tingkah sendiri. "Di, kamu
nggak ambil sepeda?" tanya Citra. "eh, iya. Ini ambil hehehe,"
jawab Adin.
Akhirnya
Adinpun pulang, di jalan dia hanya bisa senyum-senyum sendiri.
setelah pulang sekolah, Adin
langsung tidur, dia sangat lelah.
Dalam tidurnya, Adin bermimpi
yang aneh. Dia melihat sosok yang tinggi besar tak mempunyai gigi, dia seperti
monster yang menyerupai hulk. Tapi tiba-tiba monster itu memberikan sebuah roti
yang dibaliknya bertuliskan “Nino”. Dia terkejut dan juga berbunga-bunga. Memang orang yang
sedang jatuh cina mimpi yang aneh pun bisa jadi kebahagiaan.
Pukul 17.13 WIB dia baru bangun, tak terasa
sudah sore. Dia langsung ambil baju ganti dan mandi. Setelah mandi dia iseng
buka Facebooknya, ternyata ada inbox ternyata pesan dari kak Nino. Yang berisi:
*kamu tahu aku dek?* Adin masih
bengong lihat pesan itu, dia seperti mimpi. Lalu dengan segera ia membalas pesan itu.
+Iya, tahu kak. Kamu yang duduk
di atas motor parkiran sebelah utara kan?+
dengan jari gerogi dia mengetik kata-kata itu.
Beberapa menit kemudian kak Nino
membalasnya
# Merekapun saling kirim pesan,
namun suatu saat kak Nino udah ga alas inbox Adin, diapun sangat kecewa. Adin tidak
berani untuk mengirim pesan dahulu, dia takut kalau pacarnya tahu. Hingga suatu
saat di tengah indahnya
senja, Adin berpikir untuk menunggu
hari ulangtahunnya hanya untuk mengucapkan lewat inbox dengan harapan
dibalasnya.
Harapan itu terkabul, dia
membalas ucapan Adin. Mereka saling kirim pesan lagi.
***
UAS pun datang, Adin mulai
melupakan rasa sayangnya untuk kak Nino. Dia mulai belajar dengan semangat,
sekali waktu dia masih memikirkan kak Nino yang notabenenya udah punya
"pacar". Pacar kak Nino adalah kakak kelas Adin sewaktu SMP, memang
Adin dan kak Tessa tidak akrab, tapi kak Tessa tahu Adin dan Adin tahu kak
Tessa.
Di parkiran yang udah agak siang,
Adin mengambil kendaraannya, ternyata ada kak Nino lewat, untuk pertama kalinya
kak Nino dan Adin saling menyapa. Fikiran Adin berbunga-bunga lagi. "ya
Tuhan, dia senyum sama aku. Bahagia banget. Trimakasih Tuhan." batin Adin.
Setibanya di rumah, dia masih
terngiang-ngiang dengan kejadian siang tadi. "apa sebenernya itu bocah udah tahu aku ya? Tapi apa mungkin dia pura-pura gak tahu? Ya
udahlah, tunggu aja, pasti dia datang padaku kok
hehehe." batin Adin sambil berdoa
dan berharap.
***
UAS pun selesai, dan sekolah Adin
mengadakan classmeeting, yaitu lomba antar kelas untuk mengisi kekosongan
waktu. Dia juga ikut berpartisapasi sebagai penonton. Saat itu ada lomba
volley, Adin melihat kak Nino dan kak Tessa sedang bercanda. Adin tak kuasa
menahan rasa cemburunya, dia ingin nangis namun dia masih bisa menahannya. Dia
juga cerita ke temannya yang juga suka pada kak Nino.
"Er, kamu tadi lihat kak Nino sama kak Tessa?" tanya Adin
pada Erin.
"iyalah Di, aku tadi kan
juga disampingmu. Aku juga cemburu tau. Huh!"
"hehe. Tapi sumpah, so
sweeeeeettttt banget." sela Fira
"iyalah, namanya juga
pacarnya." jawab Erin.
"tapi, sesakitnya perasaanmu
masih sakit pakek banget untuk aku." batin Adin.
***
Bel pulang sekolahpun berbunyi,
tapi Adin masih mau ikut ekstrakulikulernya di sekolah. Dia pulang hampir jam 6 sore, ditengah kegiatan ekstranya,
Adin melihat Kak Nino sama kak Tessa ke parkiran bareng. Dalam hati Adin, Adin
senang melihat mereka berdua. “mereka itu serasi banget yaa, jadi
ngerasa bersalah telah sayang sama kak Nino. Huh!”
kataku dalam hati. “Dor! Kok nglamun aja sih kamu,”
bentak Rinia membuyarkan lamunanku.
“eh, kamu Rin. Hehe, enggak kok!”
“enggak nglamun apaan, buktinya kamu kaget gitu waktu aku
kagetin, yeee, mau ngebohongn aku ya” ejek Rinia
“alah, kamu itu. Haha”
“mikirin apaan sih kamu?”
“enggak kok, lagi capek aja nih seharian belum istirahat.”
“enggak salahkan aku? Hehe. Ayolah cerita, kamu lagi
mikirin apa?”
“mikirin kalo aku seandainya tiba-tba
punya pacar yang manis banget terus ajak aku ke pantai, kan asik tu wkwkwk”
“sialan, yang bener dong huh. Hmm, Apa
lagi mikirin yang ada di dalam parkiran itu?”
“eh, enggak ya. Siapa dia, ngaco aja kamu.”
Jawab Adin dengan nada panik
“tuhkan, kamu jawabnya panik. Udahlah, jangan pikir yang
enggak-enggak!”
“kamu tu Rin, tau aja, nyerah deh aku hehe. Lha dari tadi
aku tunggu nggak keluar-keluar dari parkiran.”
“mungkin ada masalah sama kendaraannya kali.”
“iya deh, mikir gitu aja. Hehe. Eh, udah mau pulang itu,
ayuk ke sana.”
“oke.”
Akhirnya kegiatan ekstrapun
selesai, Adin menuju parkiran untuk pulang. Karena suasana grimis yang lumayan
lebat, terpaksa dia agak berlari.
“eh, kakak!”
suara Adin yang kaget melihat kak Tessa sama kak Nino masih di parkiran.
“kok buru-buru, dek?” tanya kak Tessa
“iya kak, udah sore ini, takut dijalannya. Duluan ya kak .” sapa
Adin yang sembari tersenyum sama kak Tessa dan kak Nino, namun kak Nino
tersenyum pada Adin dengan senyum yang mugkin dibilang agak tidak ikhlas. “mungkin
kak Nino takut ketahuan kak Tessa.” Batin Adin. Kak Tessa
mungkin tidak tahu kalau Adin mengenal kak Nino, walau tidak pernah ngobrol
seenggaknya kak Nino dan Adin saling sapa waktu papasan.
***
Sesampainya di rumah, Adin
berpikir kembali.
“kenapa ya kak Nino kayak
gitu, tadi. Apa mungkin dia gak suka aku. Tapi kenapa selama ini dia selalu
nyapa aku? Apa aku harus ngilangin rasa sayang dan cintaku ini ya? Aku ngerasa
gak enak sama kak Tessa, dia terlalu baik sama aku. Dan terlalu lembut untuk
aku jahati nanti bila aku benar-benar nekat untuk memiliki kak Nino.”
Gumamnya dalam hati.
Adinpun juga saat belajar
memikirkan kejadian tadi, kejadian itu sangat mengganggu konsentrasinya, Adin
tak mau seperti ini terus. Dia harus melupakan kak Nino.
Dan hingga saat ini, Adin
hanya menyukainya dalam hati saja, Adin tidak menceritakan perasaannya pada
teman-temannya, dan Adin berhasih menyimpannya apat-rapat di dalam hatinya.
Tahun pun berganti, Ia kini
telah kelas XII, Adin telah sedikit demi sedikit melupakan perasaannya pada Kak
Nino. Namun suatu hari tiba-tiba muncul ide untuk meminjam buku pada kak Nino,
ia telah mengontaknya lewat facebook,
akhirnya mereka janjian dan bertemu di sebelah kelas Adin untuk penyerahan buku
kelas XII tersebut. Ternyata di bungkusan buku itu ada sandal berwarna fuschia, Adin kaget kenapa ada sandal
itu di dalamnya apa mungkin memang terbawa Adin juga tak mengerti. Akhirnya
Adin memberanikan diri untuk bertanya kepada kak Nino.
“Kak, kenapa ada sandal warna fuschia di dalem kantong plastik buku
yang kemarin?”
“owalah, itu buat kamu dek hehe kamu ga
suka ya?”
Adin terkejut, kenapa
tiba-tiba kak Nino memberikan sandal itu kepadanya.
“lho kak, kenapa tiba-tiba ngasih sandal
buat aku?”
“he ya nggapapa dek, pengen kasih sesuatu
aja buat kamu, kan benta lagi aku jarang ke smada hehe, oh ya kemarin kamu
ultah juga kan ya, jadi ya itu buat kado juga ya J.”
Yah, dibuat melting lagi deh
sama kakak ini pikir Adin
“oh gitu, yaudah makasih ya kakak hehe.”
Setahun telah berlalu tanpa
ada komunikasi lagi.
Tiba-tiba kak Nino datang ke
Adin untuk menyatakan perasaannya yang selama ini terpendam, ternyata dia
menunggu momen putus dengan kak Tessa supaya tak ada pihak yang tersakiti. Kini
mereka telah merajut impiannya untuk bahagia selamanya.

